Lompat ke isi

Gamindes

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pengantar

[sunting]

Penulis bernama Anggelina Purnama, atau Anggel, dengan dobel ‘g’. Ia percaya bahwa kelebihan satu ‘g’ tersebut adalah untuk ‘gajah’, karena sangat menyukai karakter gajah semenjak berkuliah di Strata 1. Saat ini, penulis berusia 25 tahun. Ia menyukai dunia kepenulisan dan suka menulis dongeng anak-anak. Secara profesional, per Januari 2023, penulis masih bekerja di bidang pengembangan produk di salah satu perusahaan swasta di Indonesia. Ia memiliki ketertarikan pada manajemen merek dan pengembangan produk, serta telah mencoba berkontribusi dalam konsultasi riset pasar dan editor cerita anak di luar pekerjaan utamanya.

Kontak

[sunting]

Email: anggelina.purnama.lie@gmail.com

Premis

[sunting]

“Gamindes” berisikan kisah tentang polarisasi pemikiran dan perilaku manusia dengan hewan. Satwa gajah, sebagai hewan yang dilindungi, disorot dan diceritakan dengan alur yang tak terduga oleh penulis kepada pembaca, seperti gajah yang diasosiasikan dengan babi hutan.

Tokoh

[sunting]
  1. Gamindes: tokoh utama, seekor gajah
  2. Raja Bena: Raja babi hutan
  3. Darminah: Ratu babi hutan
  4. Arjanti: anak perempuan Raja Bena dan Ratu Darminah
  5. Raja
  6. Ratu
  7. Putri Ajeng: anak perempuan Raja dan Ratu
  8. Argani: pemuda yang mengikuti kontes kerajaan
  9. Asisten prajurit: asisten yang menemani Argani
  10. Wacika: pemuda yang membunuh Raja dan Argani

Lokasi

[sunting]
  1. Hutan besar Sumatera
  2. Desa babi hutan
  3. Istana

Cerita pendek

[sunting]

Kehilangan ibu

[sunting]
Ilustrasi Gamindes

Dahulu kala, di pedalaman Sumatera, ada seekor bayi gajah yang baru lahir, yang ditinggalkan sendirian oleh ibunya di suatu hutan besar. Ia kemudian terbangun di tengah malam; merasa kedinginan dan menangis, karena tidak ada siapapun yang menemaninya. Makhluk kecil ini pun memutuskan untuk mengikuti insting-nya; menyeberangi sungai untuk menemukan pemukiman terdekat. Belalainya dipaksa untuk berada di atas permukaan air, sementara tangannya mendayung pelan.

Raja Bena dan Gamindes

[sunting]
Ilustrasi kedatangan Raja Bena

Akhirnya, ia sampai di sebuah habitat besar babi hutan, suatu desa di samping hutan, pada dini hari dan meminta pertolongan kepada keluarga di sana. Semua orang mencibirnya dan takut terhadapnya, karena perbedaan bentuk di wajahnya (terutama, belalai di bagian tengah).

Ketua babi hutan, Raja Bena, secara mengejutkan datang ke tempat tersebut dan menenangkan situasi.

“Siapa kau?” Ia bertanya kepada bayi gajah itu.

“Aku berasal dari hutan besar di sebelah desa ini, aku mencari ibuku.” Gajah yang hampir membeku itu menjawab.

Raja Bena dapat melihat hati gajah kecil yang murni tersebut melalui matanya dan kata-katanya. Ia tidak pernah bertemu seseorang yang seperti ini.

“Kemarilah, kami punya api unggun untuk menghangatkanmu di dalam dan makanan-makanan untuk penyambutan!” Ia segera mengundang gajah tersebut ke rumah.

Sembari gajah malang namun beruntung ini mengikuti Raja, orang-orang di luar saling berbisik tentang hewan tersebut dan kebanyakan dari mereka tidak menyetujui keputusan pemimpin mereka.

“Sekarang kau adalah bagian dari keluarga kami. Kau bisa memanggilku ayahmu, istriku, Darminah–ibumu, dan anak perempuanku, Arjanti–saudarimu.” Raja Bena berkata kepada Gamindes (nama yang mereka berikan kepadanya) di hari ke tiga belas ia sampai.

Gamindes, tidak lain dan tidak bukan, adalah singkatan dari “Gajah Mini Desa”. Meski demikian, Raja Bena dan keluarga tidak pernah menyebutkan kepada Gamindes bahwa nama tersebut merupakan kependekan dari suatu frasa.

Kehidupan Gamindes

[sunting]
Ilustrasi pertumbuhan Gamindes

Gamindes tidak punya teman dekat. Tumbuh besar, belalainya mulai menjadi lebih panjang dari pertama kali ia datang, dan tubuhnya tampak seperti diinjek dengan suatu hormon pertumbuhan yang kuat, dan hal inilah yang menjadi alasan mengapa para babi hutan tidak menyukainya. Mereka berpikir bahwa Gamindes adalah suatu spesies yang berbeda dan tidak diketahui. Kendati kondisi yang kurang beruntung ini, Gamindes tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan teman-teman babi hutan, kecuali kepada keluarganya sendiri. Ia selalu tampil ceria di luar, pintar, dan baik hati. Ia sangat bersyukur memiliki ayah angkatnya, Raja Bena, ibu angkatnya, Darminah, dan juga kakak perempuan angkatnya, Arjanti, yang berusia 1 tahun lebih tua darinya.

Kontes kerajaan

[sunting]
Ilustrasi istana

Sementara itu, tak jauh dari desa babi hutan, terdapat sebuah istana manusia yang luar biasa megah, di mana Raja dan Ratu-nya memiliki seorang anak gadis yang cantik, bernama Putri Ajeng. Raja berpikir bahwa Putri Ajeng perlu menikahi seorang pemuda yang kuat agar dapat membantu melanjutkan istana mereka dan mewarisi aset yang mereka miliki. Sebuah kontes dengan persyaratan yang cukup sulit diadakan untuk mencari pemuda beruntung tersebut. Siapapun yang ingin terpilih harus membawa babi hutan terbesar dari hutan di depan kerajaan. Beliau ingin menyajikan daging babi hutan dari kontes tersebut saat pesta pernikahan. Orang-orang di sekitar kerajaan tahu bahwa Raja bersifat keji dan kikir. Tidak heran bila rakyat di sana hidup dalam kemiskinan dan kesulitan.

Banyak laki-laki dari berbagai penjuru datang untuk berpartisipasi dalam tantangan ini. Namun, hanya satu yang berhasil sejauh ini, seorang pemuda bernama Argani. Sejak muda, Argani banyak belajar trik-trik perlawanan diri dan telah hidup secara mandiri. Ia masuk ke dalam hutan dengan seorang asisten prajurit dan beberapa alat perlindungan diri. Setelah kesulitan selama 3 hari, akhirnya ia sampai di desa babi hutan.

“Siapa babi hutan terbesar di sini?” Ia berteriak.

Bukan babi hutan

[sunting]

Gamindes, yang sedang berbaring sendirian di jejaring permainan flying fox yang terikat di pohon-pohon dikotil terbangun dan kaget. Sekelompok babi hutan yang sedang bermain petak umpet juga seketika berhenti. Argani melihat ke sekeliling, dan Gamindes adalah satu-satunya yang menarik perhatiannya. Wow, babi hutan terbesar yang pernah kulihat selama hidupku, tetapi kenapa ia punya hidung sepanjang ini dan kenapa lebih tampak seperti raksasa? Ia heran dalam hati.

“Kau …,” Argani menunjuk Gamindes dan lanjut berbicara “…kau adalah babi hutan terbesar yang kucari. Lebih baik kau ikut denganku!” Ia menaikkan suaranya tanpa sadar, yang seakan menjadi sebuah ancaman.

“Apa maksudmu?” Gamindes merasa sedikit terganggu.

Orang-orang terdiam, hingga Raja Bena datang ke arena dan menyapa kencang,

“Siapa kau dan apa yang kau inginkan?” Argani memegang senjatanya di tangan kanan, siap untuk menembak Gamindes,

“Sebaiknya kau ikut denganku dan asisten prajuritku!”

“Hai, Anak Manusia! Siapa kau dan apa yang kau inginkan dari kami?” Raja Bena mengulangi perkataannya dengan matanya yang sebagian menatap ke arah lubang senjata.

Di dalam hatinya, beliau sangat khawatir akan hidup Gamindes.

“Aku ingin babi hutan terbesar ini ikut denganku ke istana karena aku ingin menikahi putri Raja!”

Kaki Gamindes mati rasa karena takut, namun ia tetap mencoba untuk bergerak seiring pikirannya penuh dengan pemikiran-pemikiran mengerikan. Ia tidak pernah ingin berada dalam masalah, tetapi hari ini, sayangnya, adalah harinya.

“Kalau begitu, bawa aku!” Raja Bena menimpali;

“Aku adalah babi hutan terbesar yang kau cari.” Ia menambahkan dengan suara gemetar.

“Gamindes bukanlah seekor babi hutan, melainkan seekor gajah.” Suara itu terdengar sangat berat.

Semua orang terkejut. Kalimat itu mungkin saja benar. Raja Bena adalah babi hutan terbesar di desa, sedangkan Gamindes yang merupakan makhluk terbesar bukanlah babi hutan, ia adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Selama 13 tahun terakhir ini, ia telah bekerja sangat keras untuk menginvestigasi apa jenis Gamindes dan menemukan bahwa ia bukanlah bagian dari genus Sus (suatu genus dari babi hutan). Adegan yang terjadi di depan babi-babi hutan membuat mereka bergetar. Banyak dari mereka mulai menitikkan air mata. Ini semua adalah tentang seorang ayah yang mencoba menyelamatkan anak laki-laki angkatnya. Gamindes menahan tangisnya, tergoncang dan sangat sedih mengetahui fakta bahwa ia bukanlah bagian dari spesies babi hutan dan menyaksikan pengorbanan yang Raja Bena tulus lakukan untuknya.

“Baiklah, ikutlah denganku.” Argani mencoba membawa Raja Bena pergi dengannya.

“Aku akan ikut denganmu juga, karena tidak jelas apakah aku adalah babi hutan atau bukan. Kita harus membiarkan Raja menentukannya untuk kita.” Gamindes berkata kepada Argani.

Ilustrasi perjalanan menuju istana

Kejadian tersebut indah, tetapi tragis. Gajah muda kuat ini sadar bahwa adalah kemungkinan kecil bahwa ia seekor babi hutan, namun ia masih ingin mencoba menyelamatkan ayahnya, yang sudah memberikannya segalanya, entah itu sebuah pisang atau telinga untuk mendengarkan keluh-kesah perasaan terdalamnya. Ia adalah seorang ayah yang hebat, seseorang yang ia kagumi seumur hidupnya. Oleh karena itu, ia harus menuntun ayahnya, apabila hal-hal buruk terjadi.

Pembunuhan Raja dan Argani

[sunting]

Singkat cerita, Argani dan asisten prajuritnya, Raja Bena, dan Gamindes telah sampai di istana. Mereka sampai tepat ketika Raja akan menilai apakah tantangan berhasil ditaklukkan atau sebaliknya. Di sisi lain, ada seorang pemuda miskin bernama Wacika, yang sudah menyiapkan sebuah ide jahat. Ia akan menembak Raja dan Argani. Pemuda ini telah menyukai Putri Ajeng selama 5 tahun. Ketika ia mendengar tentang tantangan ini, ia menjadi depresi karena berpikir bahwa mustahil jika ia akan menang. Ia telah lebih dari siap untuk membunuh Raja dan Argani. Ia mencoba untuk membenarkan niatnya; karena mereka (Raja dan Argani) berniat untuk membunuh hewan-hewan, ia berdalih.

Raja, Argani, Putri Ajeng, Raja Bena, dan Gamindes sudah berada di ruangan yang sama. Tampak bahwa Raja sangat senang dengan apa yang berhasil Argani bawa. Wacika, yang menyelinap diam-diam ke dalam istana dan memata-matai seluruh percakapan, langsung meloncat dari tempat persembunyiannya dan menembak Raja, kemudian Argani. Perlindungan yang ketat dari sepuluh prajurit tidak mampu mencegah hal ini terjadi. Raja dan Argani meninggal dalam hitungan menit dan Wacika ditangkap untuk dihukum.

“Raja jahat! Dan kau menyebalkan!” Ia berteriak kepada mayat Raja dan Argani sembari ditarik keluar dari ruangan menuju pengadilan.

Putri Ajeng, yang berdiri di samping kursi kerajaan, mulai menangis dengan histeris, dan begitu pula dengan ibunya, yang baru memasuki ruangan karena mendengar suara ledakan yang sangat keras.

Epilog

[sunting]

Dua tahun kemudian, Putri Ajeng menjadi putri tunggal yang memimpin seluruh kerajaan. Ia memperlakukan rakyatnya dengan baik, sedangkan ibunya jatuh sakit dan meninggal tidak lama setelah kematian Raja dan Argani. Selama masa berkabung 40 hari, Raja Bena tetap tinggal di istana, sebelum akhirnya dikirimkan kembali ke hutan untuk memimpin babi-babi hutan dan hidup dengan keluarga tercintanya, Darminah dan Arjanti.

Sejak saat itu, Gamindes dipercayai sebagai hewan istana yang suci, yang melindungi Putri Ajeng. Orang-orang pun mulai mengakui hewan raksasa gajah dan mereka percaya bahwa gajah adalah sebuah simbol kekayaan, keberuntungan, dan kebijaksanaan.

Catatan kaki

[sunting]

Ibu Gamindes bukan pergi tanpa sebab, melainkan diambil paksa oleh pemburu gajah ilegal, untuk dipekerjakan secara tidak layak. Hal yang hampir serupa juga terjadi kepada ayahnya, 6 bulan sebelum kejadian tersebut, yang mana gadingnya diambil untuk diperjualbelikan sebagai cendera mata.

Keterangan

[sunting]

Karya ini diikutsertakan dalam lomba Proyek Yuwana.