Lompat ke isi

Androsentrisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Charlotte Perkins Gilmas, pencetus androsentrisme

Androsentrisme adalah sebuah pemahaman yang menjadikan laki-laki sebagai pusat dari dunia.[1] Lelaki dipahami sebagai patokan untuk memandang tentang dunia, tentang kebudayaan, dan tentang sejarah.[1] Pemahaman ini juga menjadikan lelaki atau pengalaman lelaki sebagai norma bagi perilaku manusia.[2] Dalam pemahaman Androsentrisme, peran perempuan tidak mendapat perhatian.[3] Pemahaman Androsentrisme mempunyai hubungan dengan struktur patriarki.[2] Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh feminis yang bernama Charlotte Perkins Gilman pada awal abad ke 20.[1][4] Pemahaman androsentrisme juga turut mempengaruhi dunia pendidikan dan dunia bahasa.[2][5] Lawan dari pemahaman androsentrisme adalah gynosentrisme.[1]

Sampai tahun 1970an, hampir sebagian besar teori secara tidak sadar didasarkan pada kehidupan lelaki dan pengalaman lelaki.[2] Lelaki adalah norma, sedangkan wanita adalah sesuatu yang asing.[2] Pada Awal tahun 1911, Charlotte Perkins Gilman mengemukakan bahwa sebagian besar kebudayaan menganut pemahaman androsentris.[2] Gilman juga mengemukakan bahwa sifat manusia sebagian besar hanya dilihat dari sifat lelaki.[2]

Ada beberapa contoh teori yang memperlihatkan bagaimana pemahaman Androsentrisme bekerja sebagai inti asumsi dalam pikiran manusia.[2] Pada Tahun 1993, Sandra Bem merujuk kepada Androsentrisme sebagai salah satu dari tiga lensa gender untuk melihat dunia.[2] Dua lensa yang lain adalah polarisasi gender dan esensi biologis.[2] Polarisasi gender merupakan suatu cara pandang yang melihat lelaki dan perempuan sebagai pihak yang berlawanan.[2] Esensi biologis merupakan cara pandang yang melihat bahwa perbedaan gender merupakan suatu bawaan.[2] Bagi Sandra Bem, Androsentrisme sangat cocok dengan struktur patriarki.[2] Struktur patriarki menggambarkan bahwa lelaki dan pengalamanya adalah sesuatu yang istimewa.[2] Struktur patriarki menunjukkan siapa yang mempunyai kuasa dan androsentrisme menunjukkan bagaimana kuasa itu dipraktikkan secara psikologis dan kebudayaan.[2] Teori lain yang dipengaruhi oleh paham androsentrisme adalah teori Sigmund Freud yaitu psikoanalisis dari perilaku manusia.[2] Teori ini muncul pada awal tahun 1900an.[2] Dalam teorinya, terdapat sebuah tahap yaitu tahap phallic.[2] Dalam tahap ini dikatakan bahwa pada usia tiga sampai lima tahun, anak laki-laki dan perempuan sangat peduli dengan kenyataan bahwa anak laki-laki mempunyai penis sedangkan anak perempuan tidak.[2] Dalam tahap ini, penis dilihat sebagai organ superior.[2] Dari teori ini, Freud memakai lelaki sebagai norma.[2] Teori Sigmund Freud ini ditentang oleh seorang tokoh bernama Karen Horney yang mengemukakan bahwa perempuan pun memiliki organ vital yang mempunyai peranan sentral dalam sistem reproduksi yaitu rahim.[2]

Salah satu contoh lain dari androsentrisme dalam teori psikologi dapat ditemukan dalam teori David McClelland's tentang pencapaian motivasi.[2] Teori ini menjelaskan mengenai keragaman manusia dalam pencapaian perilaku.[2] McClelland mengemukakan bahwa pencapaian perilaku pada level individual dengan motivasi personal untuk dapat mencapai harapan individual akan kesuksesan dan melampirkan nilai untuk sebuah kesuksesan individual.[2] Model teori McClelland ini dapat dengan baik diterapkan dalam memperkirakan pencapaian perilaku dari lelaki, namun tidak bagi perilaku perempuan.[2] Dalam teori ini, pencapaian perilaku perempuan dilihat dari sudut pandang perilaku lelaki.[2]

Bahasa menyampaikan sebuah pesan yang melampaui makna dari kata-kata.[2] Bahasa perdana dalam bahasa Inggris memperlihatkan bahwa lelaki adalah norma dan perempuan adalah pengecualian.[2] Pemahaman androsentrisme dalam dunia bahasa dapat dengan mudah dikenal dalam beberapa pola yaitu mengabaikan perempuan, stereotip perempuan, dan merendahkan perempuan.[2] Dalam bahasa Inggris, ada beberapa kata yang mengandung pemahaman androsentrisme seperti chairman yang berarti ketua, mankind yang berarti manusia, mailman yang berarti pengantar pos.[2] Kata man dalam susunan kedua kata tersebut menunjukkan pemahaman androsentrisme.[2] Kata man dalam susunan kedua kata tersebut juga memperlihatkan bahwa chairman dan mankind hanya menunjuk kepada kaum laki-laki.[2] Nancy Henley mengemukakan bahwa umumnya masyarakat membaca kata-kata tersebut dan berpikir terutama mengenai tentang laki-laki, bukan laki-laki dan perempuan secara seimbang.[2] Bahasa androsentrisme mempengaruhi persepsi masyarakat tentang siapa yang cocok untuk sebuah pekerjaan.[2] Dalam hal ini, kata "mailman" memperlihatkan konotasi bahwa pekerjaan sebagai tukang pos tidak cocok bagi seorang perempuan.[2]

Selain dalam bahasa Inggris, androsentrisme juga dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia.[2] Dalam bahasa Inggris terdapat dua kata yang berpasangan yaitu husband and wife yang berarti suami istri.[2] Letak kata suami yang mendahalui istri memperlihatkan bahwa laki-laki adalah primer dan perempuan adalah sekunder.[2]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b c d (Indonesia)A.Sunarko. 2008.Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi.Yogyakarta:Kanisius.Hlm 175.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am (English)Susan A. Basow. 2002. Encyclopedia of Women and Gender: Sex Similarities and differences and The Impact of Society and Gender. Florida:Academic Press. Hlm 125.
  3. ^ (English)Rita M. Gross. 1987. Woman in World Religions: Tribal Religions, Aboriginal Australia. Albany:State University of New York Press. Hlm 37-38.
  4. ^ (English)Yvette V. Lapayesse. 2012.Mother-Scholar (re)imagining K-12 Education. Rotterdam:Sense Publishers. Hlm 11-12.
  5. ^ (Indonesia) Saparinah Sadli. 2010. Berbeda Tetapi Setara Pemikiran Tentang Kajian Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hlm 53.