Lompat ke isi

Sosioekonomi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sosioekonomi (juga dikenal sebagai ekonomi sosial) adalah ilmu sosial yang mempelajari bagaimana aktivitas ekonomi mempengaruhi dan dibentuk oleh proses sosial. Secara umum, ilmu ini menganalisis bagaimana perjuangan, stagnasi, atau kemerosotan masyarakat modern akibat ekonomi lokal, regional, atau ekonomi global.

Ekonomi

Kategori umum

Ekonomi mikro · Ekonomi makro
Sejarah pemikiran ekonomi
Metodologi  · Pendekatan heterodoks

Bidang dan subbidang

Perilaku  · Budaya  · Evolusi
Pertumbuhan  · Pengembangan  · Sejarah
Internasional · Sistem ekonomi
Keuangan dan Ekonomi keuangan
Masyarakat dan Ekonomi kesejahteraan
Kesehatan  · Buruh  · Manajerial
Bisnis Informasi  · Informasi · Teori permainan
Organisasi Industri  · Hukum
Pertanian  · Sumber daya alam
Lingkungan · Ekologis
Geografi Ekonomi  · Kota · Pedesaan  · Kawasan
Peta ekonomi

Teknik

Matematika  · Ekonometrika
Eksperimental · Neraca nasional

Daftar

Jurnal · Publikasi
Kategori · Topik · Ekonom

Portal Bisnis dan ekonomi

"Sosioekonomi" terkadang digunakan sebagai istilah hipernimi dari berbagai macam bidang penyelidikan. Istilah "ekonomi sosial" dapat merujuk secara luas sebagai "penggunaan ekonomi dalam mempelajari masyarakat".[1] Secara lebih sempit, praktik kontemporer mempertimbangkan interaksi perilaku individu dan kelompok melalui modal sosial dan "pasar" sosial (tak terkecuali, sebagai contoh, penggolongan akibat pernikahan) serta pembentukan norma sosial[2][3][4][5][6][7] dalam hubungan ekonomi terhadap nilai sosial.[8][9]

Penggunaan tambahan yang berbeda mendeskripsikan ekonomi sosial sebagai "bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara ilmu ekonomi di satu sisi dan filsafat sosial, etika, serta martabat manusia di sisi lain" terhadap rekonstruksi dan perbaikan sosial[10][11] atau juga menekankan metode antardisiplin dari bidang ilmu seperti sosiologi, sejarah, dan ilmu politik.[12][13] Dalam mengkritik ekonomi arus utama atas dugaan premis filsafat yang salah (sebagai contoh, pengejaran kepentingan diri sendiri) dan mengabaikan disfungsional hubungan ekonomi, dukungan seperti itu cenderung mengelompokkan ekonomi sosial sebagai heterodoks.[14][15][16]

Faktor sosioekonomi dalam perubahan lingkungan

[sunting | sunting sumber]

Sistem sosioekonomi pada tingkat regional merujuk pada cara faktor sosial dan ekonomi mempengaruhi satu sama lain dalam rumah tangga dan masyarakat lokal. Sistem ini memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan melalui deforestasi, polusi, bencana alam, serta produksi dan penggunaan energi. Melalui penghubungan sistem yang berjauhan, interaksi ini dapat menjadi dampak global. Ekonomi lokal, ketidaktahanan pangan, dan bahaya lingkungan adalah semua efek negatif yang merupakan dampak langsung dari sistem sosioekonomi.

Deforestasi, bencana alam, polusi, dan konsumsi energi secara eksplisit menunjukkan bagaimana manusia dan sistem alam merupakan sistem yang terintegrasi. Semuanya dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan faktor kontekstual yang sering kali memiliki lebih banyak dampak negatif pada lingkungan.[17] Interaksi manusia dengan lingkungan menciptakan efek domino. Sistem sosioekonomi ini saling terhubung dan menghasilkan dampak mulai dari tingkatan lokal hingga ke tingkat global.

Deforestasi

[sunting | sunting sumber]

Deforestasi merupakan penyebab utama perubahan lingkungan. Deforestasi dapat dikaitkan terhadap pertumbuhan populasi, perubahan dinamika rumah tangga, dan manajemen sumber daya. Hutan secara tradisional dimiliki oleh negara dan negara memiliki kontrol manajemen sumber daya, artinya pemerintah bertanggung jawab terhadap pengembangan lahan hutan. Antara 1970 dan 2011, lahan tertutup pohon berkurang 20,6%.[18] Penurunan ini dapat dikaitkan terhadap perkembangan masyarakat dan peningkatan penggunaan sumber daya. Masalah deforestasi berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kayu sering kali dibakar dan digunakan sebagai bahan bakar yang mengeluarkan emisi CO2 ke atmofer. Deforestasi juga terjadi akibat pertumbuhan populasi dan perluasan lahan pertanian yang menciptakan lingkaran setan (pertumbuhan populasi meningkatkan kebutuhan untuk perluasan lahan pertanian, yang kemudian mendorong pertumbuhan populasi lebih lanjut). Ketika hutan ditebang untuk memulai praktik agrikultur, degradasi tanah sering terjadi dan menyebabkan masalah lanjutan seperti penurunan hasil panen, yang kemudian berkontribusi pada ketidaktahanan pangan dan kontraksi ekonomi.

Akibat deforestasi, hewan seringkali kehilangan habitatnya dan vegetasi mengalami penurunan signifikan. Kehilangan habitat ketika deforestasi umum terjadi tidak hanya karena penebangan pepohonan, tetapi juga karena lahan tempat pepohonan tersebut sebelumnya berada menderita erosi tanah ekstrem akibat kurangnya perlindungan dari tutupan pohon. Lebih jauh, perjuangan hewan untuk sintas semakin sulit akibat temperatur tinggi di tempat kehilangan tutupan pohon.[19] Ekonomi masyarakat setempat terdampak oleh hal ini karena mereka bergantung pada sumber daya tersebut untuk menggerakan pasar lokal dan menghidupi keluarganya. Obat-obatan modern juga terdampak karena beberapa obat berasal dari tanaman yang ditemukan di wilayah tersebut. Kehilangan sumber daya ini berarti hilangnya pemasukan masyarakat setempat yang bergantung pada sumber daya alam untuk menghasilkan keuntungan. Hal ini dapat berdampak global dengan menciptakan kelangkaan obat-obatan di seluruh dunia.

Pencemaran laut secara masif berdampak pada masyarakat nelayan kecil di seluruh dunia. Ketika perairan laut mengalami polusi, terdapat beragam dampak pada kehidupan laut. Ikan menyerap merkuri dari pertambangan batu bara dan pembakaran bahan bakar fosil yang membuat ikan tersebut beracun untuk dikonsumsi. Ketidaktahanan pangan menjadi dampak sosioekonomi dari kehidupan laut yang beracun karena masyarakat pesisir kecil bergantung pada penangkapan ikan untuk menggerakkan pasar setempat.[20] Perusahaan besar menghasilkan polusi ini sebagai sistem limpahan, yang kemudian berdampak pada masyarakat di sekitarnya.

Bencana alam

[sunting | sunting sumber]

Bencana alam menjadi lebih parah ketika lingkungan berubah. Pada belahan bumi barat, tanah longsor menjadi lebih sering terjadi dan lebih parah. Karena masyarakat terus berkembang, lanskap teganggu oleh interaksi manusia dan wilayah lereng bukit tak stabil mulai mengalami keruntuhan akibat tekanan ini.[21] Dampak ini dapat menyebabkan kehilangan habitat bagi hewan, kehilangan tempat tinggal, dan kerusakan menyeluruh dari bangunan industri. Bencana alam ini dapat berdampak pada ekonomi lokal sebagaimana bencana alam lainnya karena dapat mengganggu keseluruhan alur masyarakat. Dampak ini dapat dibagi ke dalam sektor privat dan publik, sebagai contoh, jalan bebas hambatan yang hancur karena tanah longsor akan diperhitungkan sebagai kerugian publik. Sementara itu, pertanian setempat yang kehilangan seluruh tanamannya akibat tanah longsor akan diperhitungkan sebagai kerugian privat. Urbanisasi dan deforestasi merupakan penyebab utama dalam peningkatan jumlah kejadian tanah longsor pada masyarakat kecil.[22]

Rumah tangga

[sunting | sunting sumber]

Faktor sosioekonomi lainya adalah perubahan pada keluarga rumah tangga. Keluarga inti secara tradisional terdiri dari dua orang tua dan anak-anaknya yang tinggal satu atap. Dahulu, rumah tangga sering kali membatasi jumlah anggota keluarga besar seperti kakek dan nenek. Dengan pergeseran jumlah orang yang berada di bawah satu atap yang sama, terdapat peningkatan konsumsi energi langsung.[23] Lebih sedikit orang per rumah tangga berarti lebih banyak rumah tangga. Orang-orang mengalami pergeseran menuju satu orang per rumah tangga akibat perubahan norma sosial. Lebih banyak rumah tangga memiliki arti lebih banyak energi yang digunakan untuk melakukan berbagai pekerjaan seperti pemanasan rumah, penggunaan televisi, dan penggunaan lebih banyak lampu. Perubahan ini juga berarti lebih banyak ruang lahan geografis yang digunakan orang sehingga menyebabkan urbanisasi lebih lanjut dari masyarakat pedesaan. Fenomena ini telah menjadi pergeseran dalam masyarakat di seluruh dunia.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ Eatwell, John; Milgate, Murray; Newman, Peter (1989). Social Economics: The New Palgrave. The New Palgrave: A Dictionary of Economics. London: Palgrave Macmillan. doi:10.1007/978-1-349-19806-1. ISBN 978-0-333-49529-2. ISSN 2946-9805. 
  2. ^ Becker, Gary S. (November–December 1974). "A theory of social interactions" (PDF). Journal of Political Economy. Chicago Journals. 82 (6): 1063–1093. doi:10.1086/260265. JSTOR 1830662. 
  3. ^ Becker, Gary S.; Murphy, Kevin M. (2003). Social Economics: Market Behavior in a Social Environment. Harvard University Press. ISBN 9780674011212. 
  4. ^ Tommasi, Mariano; Ierulli, Kathryn, ed. (1995). The New Economics of Human Behavior. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 9780521479493. 
  5. ^ Durlauf, Steven N.; Young, H. Peyton (2001). "The New Social Economics". Social Dynamics. Cambridge: MIT Press. hlm. 1–14. ISBN 9780262541763. 
  6. ^ Ioannides, Yannis M. (2008). "Social Interactions (Empirics)". Dalam Durlauf, Steven N.; Blume, Lawrence E. The New Palgrave Dictionary of Economics (edisi ke-2). London: Palgrave Macmillan. hlm. 1–9. doi:10.1057/978-1-349-95121-5_2470-1. ISBN 978-1-349-95121-5. 
  7. ^ Scheinkman, José A. (2008). "Social Interactions (Theory)". Dalam Durlauf, Steven N.; Blume, Lawrence E. The New Palgrave Dictionary of Economics (edisi ke-2). London: Palgrave Macmillan. hlm. 1–7. doi:10.1057/978-1-349-95121-5_2422-1. ISBN 978-1-349-95121-5. 
  8. ^ 'Hubungan Ekonomi terhadap Nilai Sosial' merupakan judul yang bersesuaian dengan JEL: A13 dalam kode klasifikasi Journal of Economic Literature.
  9. ^ Benhabib, Jess; Bisin, Alberto; Jackson, Matthew, ed. (2011). Handbook of Social Economics. 1. Elsevier. ISSN 1570-6435. 
  10. ^ Lutz, Mark A. (2009). "Social economics". Dalam Peil; Staveren, Irene van. Handbook of Economics and Ethics. Cheltenham, UK & Northampton, Massachusetts: Edward Elgar Publishing. hlm. 516–522. ISBN 978-1-84542-936-2. 
  11. ^ Lutz, Mark A. (1999). Economics for the Common Good: Two Centuries of Social Economic Thought in the Humanist Tradition. London: Routledge. doi:10.4324/9780203439272. ISBN 9780429231841. 
  12. ^ Davis, John B.; Dolfsma, Wilfred, ed. (2008). "Social economics: an introduction and a view of the field". The Elgar companion to social economics. Cheltenham, UK & Northampton, Massachusetts: Edward Elgar. hlm. 1–7. ISBN 978-1-84542-280-6. 
  13. ^ "International Journal of Social Economics". Emerald. Diarsipkan dari versi asli tanggal February 19, 2014. 
  14. ^ O'Boyle, Edward, ed. (1996). Social Economics: Premises, Findings and Policies. London: Routledge. hlm. ii–ix. doi:10.4324/9780203982273. ISBN 9780203982273. 
  15. ^ Lawson, Tony (2006). "The Nature of Heterodox Economics". Cambridge Journal of Economics. 30 (4): 483–505. doi:10.1093/cje/bei093. 
  16. ^ Lee, Frederic S. (2008). "Heterodox Economic". Dalam Durlauf, Steven N.; Blume, Lawrence E. The New Palgrave Dictionary of Economics. 4 (edisi ke-2). London: Palgrave Macmillan. hlm. 1–6. doi:10.1057/978-1-349-95121-5_2487-1. ISBN 978-1-349-95121-5. 
  17. ^ Liu, J.; Dietz, T.; Carpenter, S. R.; Alberti, M.; Folke, C.; Moran, E.; Pell, A. N.; Deadman, P.; Kratz, T.; Lubchenco, J.; Ostrom, E. (14 September 2007). "Complexity of Coupled Human and Natural Systems". Science. 317 (5844): 1513–1516. Bibcode:2007Sci...317.1513L. doi:10.1126/science.1144004alt=Dapat diakses gratis. ISSN 0036-8075. PMID 17872436. 
  18. ^ Rahman, Fazlur; Haq, Fazlul; Tabassum, Iffat; Ullah, Ihsan (Februari 2014). "Socio-economic drivers of deforestation in Roghani Valley, Hindu-Raj Mountains, Northern Pakistan". Journal of Mountain Science (dalam bahasa Inggris). 11 (1): 167–179. doi:10.1007/s11629-013-2770-x. ISSN 1672-6316. 
  19. ^ "Effects of Deforestation | The Pachamama Alliance". www.pachamama.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Maret 2020. 
  20. ^ Schmutter, Katherine; Nash, Merinda; Dovey, Liz (13 Mei 2016). "Ocean acidification: assessing the vulnerability of socioeconomic systems in Small Island Developing States". Regional Environmental Change. 17 (4): 973–987. doi:10.1007/s10113-016-0949-8. ISSN 1436-3798. 
  21. ^ Schuster, Robert L.; Highland, Lynn M. (2001). "Socioeconomic and environmental impacts of landslides in the Western Hemisphere". Open-File Report (dalam bahasa Inggris). doi:10.3133/ofr01276. 
  22. ^ Kjekstad, Oddvar; Highland, Lynn (2009). Sassa, Kyoji; Canuti, Paolo, ed. Economic and Social Impacts of Landslides. Landslides – Disaster Risk Reduction (dalam bahasa Inggris). Springer Berlin Heidelberg. hlm. 573–587. doi:10.1007/978-3-540-69970-5_30. ISBN 978-3-540-69966-8. 
  23. ^ Campbell, Malcolm (November 2012). Newton, Peter W., ed. "Urban Consumption". Urban Research & Practice. 5 (3): 369–371. doi:10.1080/17535069.2012.727571. ISSN 1753-5069. 

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]